RADIO NU

BERITA

LSM Amerika Serikat Gandeng NU Galang Pendidikan Perdamaian

Jakarta - Global Peace Foundation (GPF) mengharapkan NU dapat turut berpartisipasi aktif menggalang perdamaian dunia melalui pendidikan perdamaian di kalangan warga NU dan masyarakat Indonesia. Ajakan positif disampaikan sebuah lembaga di Amerika Serikat yang konsen dalam program perdamaian dunia tersebut, ketika mengunjungi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
GPF yang dipimpin langsung Dr. Tony Devine selaku internastional Vice President, Education, GPF), didampingi Shintya Ratih Utami (Direktur Kepemudaan) dan Huzer Apriansyah (Manager Pendidikan), dalam kunjungannya kali ini tampak sangat antusias. Begitu pula, kehadirannya disambut PBNU dengan serius yang diterima langsung oleh KH. Marsudi Suhud (Ketua), KH. Hasib Wahab (Ketua), Imam Pituduh dan Sulthonul Huda (Wakil Sekjen), H. Wahyudin Ghozali (LP Ma'arif NU), serta H. Ajat Sudrajat yang menangani program beasiswa PBNU. Pada pertemuan itu, Mr. Tony B menjelaskan maksud dan tujuan dari program tersebut dengan suasana penuh keakraban, bertempat di ruang meeting PBNU Jl. Kramat Raya, Jakarta, Jum'at (11/12/2015).
Pertemuan GPF dengan PBNU yang berlangsung singkat tersebut, diawali penjelasan tentang profil singkat NU yang disampaikan KH. Marsudi Suhud. Menurut Kiai Marsudi, NU sebagai organisasi keagamaan Islam di Indonesia memiliki peranan cukup penting dalam turut menciptakan perdamaian dan mencegah konflik yang berkepanjangan. "Sebagai jam'iyyah yang memiliki pengikut lebih dari 80 juta orang, mengelola sekitar 13 ribu sekolah/madrasah, dan ribuan pondok pesantren, NU dengan faham ahlussunnah waljama'ahnya selalu konsisten mengajarkan Islam sebagai agama moderat yang rahmatan lil'alamin, agama cinta damai termasuk menolak radikalisme serta terorisme," ujar Marsudi mencontohkan dalam bahasa Inggris penuh semangat.
Mendengar penjelasan tentang NU tersebut, Mr. Tony Devine mengangguk dan sangat memahami peranan NU selama ini. Dia berkeinginan mensinergikan program GPF dengan NU khususnya dalam pengembangan pendidikan perdamaian di Indonesia. Pada pertemuan itu, disepakati program ini akan ditindaklanjuti dengan LP Ma'rif NU sebagai lembaga yang mengurus pendidikan di lingkungan NU.
Melalui proses yang telah dilalui di berbagai negara, lanjutnya, Global Peace Education menemukan dan berkeyakinan bahwa pendidikan karakter dan kreativitas adalah tulang punggung pendidikan yang holistic. Ketka siswa didik menjalani proses pendidikan dengan penanaman nilai dan didorong untuk melahirkan inovasi dalam pemecahan masalah, maka mereka akan siap dan mampu untuk berprestasi tidak hanya secara akademik tapi juga dalam kehidupan sosial mereka serta pembangunan moral. wago

DKPP - Ma’arif NU Sosialisasikan Etika Berdemokrasi

Jakarta – Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum (DKPP) bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Pusat mensosialisasikan kode etik penyelenggara Pemilu 2015, kepada guru madrasah dan sekolah di lingkungan Ma’arif. Sosialisasi yang diadakan untuk pertama kalinya dengan lembaga pendidikan ini, diikuti lebih kurang 200 orang peserta dari DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat.
Hadir sebagai pembicara pada acara tersebut, Ketua Umum PBNU Prof.Dr.KH.Said Aqil Siraj, Ketua DKPP Prof.Dr.H.Jimly Assidiqi, dan Ketua LP Ma’arif Pusat KH.Z.Arifin Junaidi. Berlangsung penuh hidmat, acara yang dikemas dengan tema Etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ditempatkan di Hotel Aryaduta Jakarta, Rabu (22/12/2015).
Berbicara atas nama Ketua LP Ma’arif NU, KH.Z.Arifin Junaidi dalam kata sambutannya menyatakan dengan bangga bahwa, kegiatan sosialisasi kode etik semacam ini ternyata baru dilaksanakan untuk pertama kalinya justru dengan LP Ma’arif.
“Ma’arif sebagai lembaga pendidikan di lingkungan NU yang bertugas menyiapkan anak didiknya deengan pembinaan akhlak, sudah barang tentu sebagai warga negara wajib menyiapkan juga pembinaan akhlak dalam berdemokrasi,” ungkapnya bersemangat.
Pernyataan Arjuna selanjutnya bernada prihatin atas penyelenggaraan Pemilu selama ini, “Sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia, Pemilu telah terselenggra lebih dari 10 kali termasuk Plikada serentak baru-baru ini. Tapi nyatanya kita tak kunjung dewasa dalam berdemokrasi, terbukti masih banyak aksi tak terpuji pasca Pemilu atau Pilkada termasuk Pilkades terutama bagi yang kalah suara,“ ujarnya.
Dalam uraiannya Ketua DKPP Prof.Dr.H.jimly Assidiqi menjelaskan, bahwa system kode etik tadinya diberlakukan hanya untuk organisasi profesi seperti kesehatan. Namun sekarang telah berkembang ke ranah Negara, bahkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menekankan agar negara-negara anggotanya untuk memberlakukan system kode etik tersebut.
Walhasil, tambah Jimly, soal etika ini sekarang sudah berkembang dimana-mana. DPR misalnya bahkan kini telah mengganti Dewan Kehormatan menjadi Mahkamah Kehormatan. Karena itu, katanya, tepat kalau Ma’arif mulai memperkenalkan system etika ke sekolah dan madrasah, guru serta murid-muridnya.
Meskipun demikian, ujar Jimly, berlakunya bisa berbeda-beda antara satu lembaga dengan lainnya, termasuk antara pusat dan daerah. “Sumber sumber etiknya bisa diambil dari ajaran agama masing-masing, agama Islam merujuk ke Al-Qur’an dan Hadist umpamanya,” tandas Jimly yang belum lama ini dinobatksan menjadi Ketua Umum ICMI Pusat. Ia juga mengakui bahwa sejak berdirinya tiga tahun lalu, sampai sekarang DKPP telah memecat lebih dari 200 orang penyelenggara Pemilu. Mereka, katanya, terbukti melanggar kode etik.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut, lebih jauh menambahkan bahwa dirinya berusaha mengembangkan system kode etik ini tidak hanya pada penyelenggara pemilu. Tapi kode etik dalam arti yang lebih luas lagi. Dalam rangka memperkenalkan kepada masyarakat luas, ia berharap Ma’arif yang memulai melakukan tidak hanya sebagai pengetahuan tapi sekaligus mempraktekkan etika profesi ini sehari-hari kepada guru, murid dan lainnya.
Demikian pula diutarakan Ketua Umum PBNU Prof.Dr.KH.Said Aqil Siraj, bahwa kita patut bersyukur menjadi umat Islam Indonesia karena memiliki figur ulama yang nasionalis atau sebaliknya tokoh nasionalis yang berjiwa ulama. “Hal inilah yang tidak akan ditemui di Negara-negara lain, terutama Negara arab dan timur tengah. Sehingga sering terjadi perang saudara di kawasan yang mengatasnamakan dirinya Negara Islam itu,” papar Kiai Said yang 13 tahun belajar di Saudi Arabia.
Ia mencontohkan Negara-negara seperti Afganistan yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tapi nyatanya ribut terus. Begitu juga Yaman, Irak, Syria dan sebagainya, lima tahun ke depan bahkan 10 tahun lagi belum bisa dijamin akan terjadi perdamaian yang hakiki.
“Kita turut bangga atas Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin, dimana pesertanya semua sarungan namun keputusannya sangat menakjubkan. Bahwa NU menghendaki Indonesia menjadi negara Darussalam sebaliknya bukan Darul Islam,” jelas Kiai Said putra Kempek, Cirebon, sambil menyitir riwayat ketika Rasulullah hijrah ke Yasrib dimana penduduknya pluralis ada Yahudi, Muhajirin, dan kaum Ansor, namun umatnya bersatu yang disebut sebagai ummatan wahidah. wago

SMK NU Bodeh Pemalang Kunjungi PBNU

Jakarta - Sebanayak 200 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) NU Bodeh, Pemalang, Jawa Tengah berkunjung ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), para pelajar itu diterima PBNU di Masjid Annahdhah lantai dasar Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (20/1).
Kunjungan siswa-siswi SMK NU Pemalang ini mendapat pencerahan dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2009-2014 Prof. Dr. M. Nuh yang juga salah seorang Ketua PBNU. Dalam sambutannya M. Nuh menjelaskan bahwa siswa-siswi yang saat ini duduk di bangku SMA/sederajat merupakan generasi yang dilahirkan dalam masa khusus. Sepuluh tahun ke depan akan memasuki satu abad berdirinya NU.
Menurutnya, NU pada masa itu akan sangat dipengaruhi oleh muda-mudi yang berusia 25-30 tahun yang saat ini masih duduk di bangku SMA/sederajat. "Saya berharap adik-adik ini dapat menjadi pioner-pioner dan militan-militan NU di wilayah masing-masing, membangun negara meneruskan perjuangan pendahulu, baldatun thoyyibatun warabbun ghafur," harapnya.
Lebih jauh Ia berharap ke depan NU dapat membangun tiga level perjuangan, khususnya level bawah yang menjadi akar perjuangan. "Kita ingin membangun khususnya pada akar (grassroot) yang akan berperan langsung dengan masyarakat. Mereka patut disebut kelompok terdepan bukan terendah," tegasnya.
Dalam pemaparannya Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tersebut menginginkan kader yang berjuang di wilayahnya masing-masing, menjadi pioner yang sukses di wilayahnya, jadi untuk berdakwah akan mudah dan orang akan menghormatinya.
Kepada siswa-siswi SMK NU Bodeh, M. Nuh menceritakan kisah Imam Abu Hanifah dengan intelektualnya, Ibnu Sina dengan keterampilannya, dan Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani dengan kejujurannya.
"Tiga hal yang menjadi pegangan untuk generasi muda untuk mencapai kesuksesan: intelektual, keterampilan, dan sikap," paparnya.
Pada akhir sambutannya Ia mengharapkan agar kader-kader NU menjadi luar biasa untuk membawa NU 100 tahun yang akan datang sebagai organisasi yang rahmatan lil 'alamin. (nuo)

Siswi SMK Maarif NU Brebes, Juara Pidato Mapsi Jateng

Brebes - Siswi SMK Maarif NU 03 Larangan, Kabupaten Brebes Nurul Isnaeni Putri berhasil meraih emas pada lomba Pidato Mata Pelajaran Pendidikan Agama dan Seni Islam (MAPSI) tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Nurul demikian nama kecilnya menumbangkan 35 peserta, utusan dari Kabupaten/Kota se Jawa Tengah, sementara untuk perak di raih utusan Kabupaten Pemalang dan perunggu dari Kota Surakarta. Lomba itu sendiri telah dilangsungkan di Kampus Universitas Wahid Hasyim Semarang, pada Sabtu (23/1/2016) lalu.
“Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa saya, sehingga juara,” tutur Nurul ketika di temui di SMK Maarif NU 03 Larangan, Rabu (27/1/2016).
Siswa kelas XII Akuntasi tersebut mengaku pada awalnya kurang pede karena dirinya berasal dari dusun dan baru kali pertama mengikuti lomba tingkat Jawa Tengah.
Namun dengan kemantapan hati yang kukuh dan dorongan dari Pembina Ahmad Rifai, akhirnya Nurul tampil memukau dihadapan dewan juri.
Dara manis kelahiran Brebes 21 Desember 1998 itu saat berpidato membawakan tema tentang sholat. Antara lain menguatkan tentang pentingnya sholat disamping menjadi fardlu ain, juga sebagai alat komunikasi antara hamba dengan Sang Khaliq.
Disamping itu, sholat menjadi tiang agama yang apabila sholatnya tidak diperkuat dengan jamaah, maka agama Islam akan runtuh.
Untuk meraih juara, Aktivis IPNU sangat getol berlatih tanpa mengenal lelah. Teman-teman di kelasnya dijadikan penonton, hingga melebar dihadapan 905 siswa SMK favorite di Larangan tersebut. “Saya tidak lagi grogi setelah digladi terus menerus,” ucap penyuka Bakso.
“Awal mula berpidato, ketika saya mewakili sambutan atas nama perwakilan kelas 9 saat acara Perpisahan di MTs,” ungkap gadis yang bercita-cita ingin menjadi dosen ini.
Selain Pidato, Anak pasangan Bapak Sohirun dan Ibu Musriah ini juga mahir berpuisi terbukti pernah menjadi juara 3 baca puisi tingkat Kabupaten Brebes. Disekolahnya, juga pernah meraih juara 1 Drama, baca puisi, fashion show.
Meski hidup dalam kesederhanaan, namun tidak menghalangi semangatnya untuk belajar dan selalu belajar. Nurul rutin setiap bada maghrib dan bada subuh di rumahnya jalan A Yani Dukuh Penjalin Banyu Desa Siandong, Kecamatan Larangan Brebes membaca buku pelajaran dan bahan bacaan lainnya yang dipinjam di perpustakaan sekolahnya.
Baginya, segala halangan tidak masalah asalkan mau berusaha dengan sekuat tenaga dan tidak melupakan berdoa kepada Allah SWT. Sebagaimana motto hidupnya, kesuksesan berawal dari kemauan yang kuat.
“Tidak bermaksud membusungkan dada, dengan ikhtiar yang kuat dan iringan doa segalanya bisa diraih dengan sukses,” pungkasnya bersyukur.
Menurut Kepala SMK Maarif NU 03 Larangan H Harun MAg menerangkan, Nurul tergolong siswi yang rajin dan penuh dedikasi yang tinggi. Sehingga di kelas maupun di sekolahnya selalu menorehkan prestasi baik akademik maupun non akademik.
Atas prestasi tersebut, dirinya berjanji akan memberikan reward sepantasnya, karena telah mengharumkan nama sekolah dan juga Kabupaten Brebes serta sekolah di bawah naungan MWC NU Larangan dan LP Maarif Brebes. (BrebesNews)

Silaturahmi SI TAPA SAKO Pramuka Ma’rif Kab. Semarang

Semarang – Guna menggiatkan Kepramukaan di lingkungan Ma’arif NU Kabupaten Semarang, Satuan Komunitas (SAKO) Pramuka Ma’arif NU Kabupaten Semarang menyelenggarakan silaturrahmi SI TAPA Sako Pramuka Ma’arif NU di lapangan Bung Karno Ungaran, Semarang.
Acara yang dibuka oleh Sekda Kabupaten Semarang Drs. Gunawan Wibisono, MM tersebut, dihadiri sebanyak 1673 siswa-siswi MI, MTs, MA serta SD, SMP, SMA/SMK di lingkungan LP Ma’arif NU se Kabupaten Semarang, Sabtu (13/2/’16).
Menurut penanggungjawab Pengurus Cabang LP Ma’arif NU Kabupaten Semarang H. Ahmad Hanik. S.Ag, M.Pd, dengan adanya SAKO Pramuka diharapkan kegiatan pengkaderan terhadap generasi muda di lingkungan LP Ma'arif PCNU Kabupaten Semarang bisa dilaksanakan lebih kreatif dan inovatif melalui kegiatan perkemahan atau kepramukaan lainnya.
Pendapat yang sama disampaikan Komandan SAKO Pramuka Ma’arif NU Drs. H. Muhrisun, MM., bahwa dirinya bersama jajaran Sako Pramuka Ma’arif NU Semarang siap mengawal dan melaksanakan berbagai kegiatan penggemblengan yang bernafaskan pendidikan mental spiritual yang tentunya sangat dibutuhkan bagi generasi muda saat ini. (wago)

sumber:maarif.or.id

 
Copyright © 2016 MTS Ma'arif NU 1 jatilawang. All Rights Reserved. Powered by Tim
by Website and Cokro